tentang buku 1001 Malam

Share:
Seribu Satu Malam merupakan sastra epik dari Timur Tengah yang lahir pada Abad Pertengahan. Kumpulan cerita ini mengisahkan tentang seorang ratu Sassanid, Scheherazade yang menceritakan serantai kisah-kisah yang menarik pada sang suami, Raja Shahryar, untuk menunda hukuman mati atas dirinya. Kisah-kisah ini diceritakannya dalam waktu seribu satu malam dan setiap malam Scheherezade mengakhiri kisahnya dengan akhir yang menegangkan sehingga sang raja pun selalu menangguhkan perintah hukuman mati pada diri Scheherazade.

Buku Seribu Satu Malam terdiri dari kumpulan-kumpulan kisah dengan tokoh yang berbeda dan alur cerita yang menarik. Di dalamnya termasuk legenda, fabel, roman, dan dongeng dengan latar yang berbeda seperti Baghdad, Basrah, Kairo, dan Damaskus juga ke Cina, Yunani, India, Afrika Utara dan Turki.

Kisah-kisah dalam Seribu Satu Malam, seperti Scheherezade dan Shahryar, dan Sinbad si Pelaut, menekankan tiga hal pada pembaca yaitu :
1.     Suatu masalah akan selalu ada penyelesaiannya
2.     Keteguhan akan membuat suatu masalah mencapai penyelesaiannya
3.     Kekuatan batin dapat membantu untuk mempertahankan keteguhan.

Ada berita menarik mengenai cerita 1001 malam :
Pengacara Mesir Ingin Buku Klasik “1001 Malam” Dilarang Terbit Ahad, 9 Mei 2010

Karya sastra klasik yang di Indonesia beken dijuduli “Cerita Seribu Satu Malam” yang di dalamnya memuat kisah Sinbad Si Pelaut, Aladdin dan Ali Baba, dan “Empatpuluh Penyamun,” dianggap sekelompok pengacara muslim di Mesir sebagai cerita yang menyerukan “keburukan dan dosa.”

Buku yang dalam Bahasa Inggris dijuduli “The Arabian Nights” berisi kumpulan dongeng rakyat dan cerita-cerita pendek itu pertama kali diterbitkan di abad pertengahan.

Namun penerbitannya kembali baru-baru ini memicu kontroversi dan seruan larangan karena dianggap mengumbar seksualitas serta menggunakan bahasa yang kurang sopan, demikian Al-Arabiya seperti dikutip koran Inggris Telegraph, Sabtu.

“Saya kaget oleh frasa-frasa ofensif dalam versi baru itu,” kata Ayman Abdul-Hakim, anggota LSM “Pengacara Tanpa Belenggu”. LSM ini mengajukan gugatan kepada Jaksa Agung Mesir agar edisi baru buku terkenal itu ditarik dari pasar, sekaligus melarang peredaran buku klasik itu.

Abdul-Hakim menyebut buku itu “hanya menghambur-hamburkan uang rakyat”, isinya mengumbar seks, dan hanya berisis “seruan untuk berbuat dosa.” Gugatan para pengacara ini dibalas Persatuan Pengarang Mesir yang menyebut para pengacara itu berlaku seperti Taliban. Otoritas kebudayaan Mesir (GOCP, General Organization of Cultural Palaces) yang memutuskan pencetakan lagi buku itu setelah edisi pertama laris dijual, menyebut “Seribu Satu Malam” sebagai warisan budaya tak ternilai yang tidak boleh dibredel.

Kepala GOCP Ahmed Megahed menyebut seruan pelarangan buku itu sebagai serangan terhadap kebebasan berpendapat. “Fakta bahwa edisi pertamanya laku terjual segera setelah diterbitkan, menunjukkan bahwa rakyat Mesir adalah penggemar buku dan mereka tak akan terpengaruh oleh sekelompok orang yang memanfaatkan Islam untuk menindas kebebasan,” katanya.

Magahed menambahkan, edisi baru dari versi terakhir buku itu telah direvisi Al-Azhar, institusi pendidikan terkemuka dunia Islam. Al-Azhar menyatakan tidak ada kandungan imoral dan bahasa ofensif dalam buku itu. (ant/mad)

1 comment: