Hakikat Tasawuf dan Selintas tentang Ibnu Athaillah

Share:
Ibnu Athaillah
Tasawuf yang dijalani oleh para ulama salaf pada akhir-akhir ini banyak yang mempertanyakan, sebenarnya Tasawuf itu bersumber dari Islam atau tidak? Ada yang mencurigai Tasawuf itu hasil contekan dari agama lain. Ada yang menuduh Tasawuf itu sudah menyimpang dari ajaran Rasulullah Saw. Itu semua adalah wajar. Karena sesuatu yang bagus, pasti banyak yang meniru atau membuat tiruannya. Ketika ada orang meneliti, dan kebetulan yang diteliti adalah yang imitasi, maka ia akan menyimpulkan bahwa Tasawuf itu melenceng. Kasus seperti ini sering terjadi.

 Karena itu perlu ditentukan metode apa yang digunakan untuk mempelajari Tasawuf. Apakah mempelajari Tasawuf itu dengan metodologi sains yang menggunakan alat observasi? Ataukah dengan menggunakan hukum akal yang selalu bertanya tentang kausalitas, yang selalu meneliti dan kemudian menyimpulkan dengan memakai beberapa term, dari premis-premis yang digabung hingga mendapatkan kesimpulan akhir? Kalau premis awalnya melenceng dan cara membuat kesimpulannya juga salah, kesimpulannya pun pasti salah. Ada lagi media ketiga, yang mungkin lebih cocok, yaitu yang dinamakan ‘ruh’. Istilahnya, akunya diri. Karena kalau ruh itu diartikan dengan nyawa, masih bisa dibilang, ‘Nyawaku.’ Berarti bukan aku. Ruh itu jati diri kemanusiaan, yang sering mendapatkan semacam pencerahan, tiba-tiba seakan-akan mengerti. Contoh, akal bertanya, “Sejak kapan Anda tahu adanya ‘akunya’ Anda?”, “Mulai kapan Anda kenal yang namanya ‘aku’?” Tidak bisa menjawab, karena itu adalah isyraq (pencerahan); akunya diri sadar tentang diri tidak menggunakan akal. Karena kalau berasal dari akal pasti melalui proses penelitian. Yang menerima pengertian tentang adanya ‘aku’ itu namanya ‘ruh’, prosesnya melalui isyraq atau ilham.

Kalau kita memasuki dunia Tasawuf dengan menggunakan ilmu pengetahuan (sains), yang namanya observasi atau pengetahuan hanya mengetahui kulit dan penampilan bentuk. Akhirnya ada yang tertipu dengan pemahaman bahwa Tasawuf adalah orang yang berpakaian lusuh, bajunya tidak rapi, baunya tidak sedap, tidak mau mengendari motor, berjalan kaki saja, dan lain-lain. Itu adalah bentuk tampilan lahir. Kemudian itu dipahami sebagai Tasawuf. Bukan itu yang disebut Tasawuf. Walaupun nanti mungkin ada keadaan murid Tasawuf yang kadang-kadang karena suatu pelajaran harus melakukan hal seperti itu. Dan itu tidak selamanya. Mungkin melalui proses itu juga bisa. Tapi bukan itu yang disebut Tasawuf. Itu bahayanya kalau menyimpulkan sesuatu dari hanya sekedar melihat, katanya, atau kabarnya, pasti tertipu.

Tasawuf itu sebenarnya, ketika belajar zikir, berusaha untuk mengecap zikir itu. Ketika diajari melakukan shalat, berusaha untuk merasakan shalat itu, sudah tidak berpikir lagi tentang sah atau tidaknya shalat. Karena sah dan tidaknya shalat sudah dipelajari sebelumnya. Teori tentang shalat sudah ditinggalkan, tetapi bukan berarti tidak dipakai. Dipakai tetapi sudah tidak menjadi beban. Seperti halnya kursus menyetir; kalau saat menyetir masih membuka buku teori, yang terjadi malah menabrak. Teorinya sudah ditinggalkan, karena sudah menyatu dengan dirinya. Sekarang tinggal mencari jalan yang tepat, bagaimana supaya tidak menabrak, melihat rambu-rambu, dan berusaha menikmati perjalanan.

Tasawuf sendiri mencakup berbagai macam aspek; metodologi, cara bertasawuf, posisi Tasawuf di tengah-tengah Islam,  tujuan Tasawuf, dan seterusnya. Tapi, ajaran-ajaran Tasawuf jangan ditabrakkan dahulu dengan kesimpulan-kesimpulan akal secara umum. Tasawuf harus dirasakan dulu, baru akan terasa pengaruhnya. Belum-belum sudah komentar, “Wah, Tasawuf tidak masuk akal!” Memang Tasawuf bukan urusan akal. Walaupun pada suatu saat akal juga diajak berpikir. Tapi itu pada level tertentu. Maksudnya, ilmu tentang ibadah, ketika masuk ke dalam Tasawuf, sudah bukan menjadi ilmu lagi, tapi sudah menjadi satu kesatuan gerakan ibadah itu sendiri untuk berusaha dirasakan. Dari merasakan ilmu itulah akan muncul ilmu-ilmu baru, akan muncul rasa-rasa baru yang sebelumnya belum pernah dirasakan.

Jadi, Tasawuf pada hakikatnya adalah totalitas kehidupan sufi memasuki ajaran Islam itu sendiri. Kalau di dalam Islam ada Tasawuf, Fikih, dan Tauhid, itu semuanya adalah kesimpulan para ulama terdahulu. Tasawuf berusaha merangkum seluruhnya untuk diajak kembali kepada Allah Swt.

Selanjutnya, siapa sebenarnya syaikh Ibnu Athaillah as-Sakandari penulis kitab al-Hikam ini? Karena tidak ada orang Tasawuf dari Thariqah mana saja yang tidak kenal kitab al-Hikam. Namanya Tajuddin Abul Fadhl Ahmad bin Muhammad bin Abdul Karim Abdurrahman bin Abdullah bin Ahmad bin Isa bin al-Husain bin Athaillah al-Judzami as-Sakandari. Dalam bidang fikih ia bermadzhab Maliki. Beliau berhasil menguasai berbagai macam disiplin ilmu yang meliputi; tafsir, hadits, fikih, ushul fikih, tasawuf, nahwu, dll. Dari gurunya beliau mendapat julukan Mufti al-Madzhabain (pemberi fatwa dua madzhab; syariat dan hakikat). Beliau mursyid thariqah asy-Syadziliyah menggantikan guru beliau, syaikh Abil Abbas al-Mursi, yang menjadi pengganti syaikh Abul Hasan asy-Syadzili. Beliau meninggal di kampung Qarafi.

Masuknya syaikh Ibnu Athaillah ke dunia Tasawuf dijelaskan di dalam kitab Thabaqat asy-Syadiliyah. Suatu ketika syaikh Ibnu Athaillah mempunyai konflik dengan salah seorang murid syaikh Abul Abbas al-Mursi. Pada saat itu syaikh Ibnu Athaillah sudah menjadi ulama besar madzhab Maliki, tapi belum masuk dunia Thariqat/Tasawuf. Pada waktu itu beliau mengingkari praktek-praktek Tasawuf Abul Abbas al-Mursi yang dipraktekkan oleh murid-muridnya. Murid syaikh Abul Abbas al-Mursi terpojok, tidak bisa menjawab pertanyaan Ibnu Athaillah. Murid tersebut berkata, “Anda tidak perlu mencela saya. Saya hanya seorang murid. Saya punya guru. Lebih baik kapan-kapan Anda mengikuti pengajian guru saya.” Syaikh Ibnu Athaillah merenung, “Baiklah kalau begitu, daripada aku berbantah-bantahan tentang perkara yang aku sendiri belum tahu kebenarannya.

 Aku ini orang berilmu kok membicarakan perkara yang belum jelas. Aku akan memperjelas persolan (tabayun). Aku akan mengikuti pengajiannya. Kalau apa yang dikatakan syaikh itu benar, pasti Allah Swt. akan memunculkan tanda-tanda kebenaran.” Akhirnya Ibnu Athaillah mengikuti pengajian syaikh Abul Abbas al-Mursi. Saat itu syaikh Abul Abbas al-Mursi sedang menerangkan tentang tingkatan pesulukan. Syaikh Abul Abbas al-Mursi menerangkan panjang lebar hingga sulit dipahami oleh orang awam. Di antara penjelasannya, syaikh Abul Abbas al-Mursi menerangkan tentang ‘kedirian’ seseorang, derajat-derajat suluk kepada Allah Swt., pengalaman-pengalaman yang dilakukan oleh orang-orang suluk, tingkat kedekatan orang suluk kepada Allah, dan macam-macam orang suluk. Beliau berkata, “Yang pertama Islam. Itu adalah derajat tunduk kepada Allah. Kemudian ta’at, dan menjalankan syariat. Yang kedua, Iman. Yaitu maqam makrifat; mengenal hakikat syara’ dengan mengerti keharusan-keharusan hamba. Yang ketiga, Ihsan. Yaitu suasana orang membuktikan kehadiran Allah Swt. di dalam hatinya.

 Dengan istilah lain, Islam itu namanya ibadah. Yang kedua, Iman itu namanya ubudiyah. Yang ketiga, Ihsan itu namanya ‘abudah.” Istilah-istilah itu diperjelas lagi dan diperjelas lagi hingga mencapai beberapa istilah. Yang pada awalnya syaikh Ibnu Athaillah sudah sedikit buruk sangka terhadap syaikh Abul Abbas al-Mursi, akhirnya beliau yakin bahwa syaikh Abul Abbas al-Mursi mendapatkan ilmu tidak hanya sekedar dari kitab, tetapi langsung mendapatkan luapan dari samudera ilmu Allah Swt. “Kalau dari kitab saja, saya pasti sudah tahu, karena saya juga kutu buku,” kata Ibnu Athaillah. “Tapi ada ungkapan-ungkapan yang secara apapun tidak bisa dibantah, namun tidak terdapat dalam buku. Ini pasti dari Tuhan.” Seusai pengajian buruk sangka Ibnu Athaillah terhadap Abul Abbas al-Mursi pun sirna dan berganti dengan rasa cinta yang datang secara tiba-tiba. Sepulang dari pengajian beliau tidak mampu masuk rumah. Beliau merasakan suatu rasa yang aneh dan tidak bisa beliau dipahami. Akhirnya beliau menyepi memandang langit. Beliau putus asa dan menyimpulkan bahwa tidak ada yang bisa memberikan solusi kepadanya kecuali Abul Abbas al-Mursi. Akhirnya Ibnu Athaillah bertemu dengan syaikh Abul Abbas al-Mursi dan menyatakan, “Demi Allah, saya menyukai Anda.” Jawab syaikh Abul Abbas, “Semoga Allah menyukaimu sebagaimana engkau menyukaiku.” Dengan jawaban itu beliau sudah merasa tersindir, karena beliau datang tanpa mengucapkan salam, langsung mengucapkan kata-kata tersebut, sebab hatinya memberontak ingin cepat bertemu dengan syaikh Abul Abbas al-Mursi. Seluruh yang dialami syaikh Ibnu Athaillah pun dipasrahkan kepada gurunya. Beliau dibimbing oleh gurunya, syaikh Abul Abbas al-Mursi, hingga syaikh Abul Abbas al-Mursi berkata, “Sungguh, kalau anak muda yang sudah jadi ulama ini benar-benar patuh kepadaku dan tekun, suatu saat ia akan menjadi mufti al-madzhabain. Ia akan menguasai ilmu lahir dan ilmu batin.”

dari pengajian KH. Imran Jamil