Fenomena Kemusyrikan

Share:
Mengabdi pada selain ALLAH
Seberapa banyaknya amal ibadah yang dilakukan akan menjadi sia-sia bila masih ada pengabdian pada selain ALLAH, karena mengabdi pada selain ALLAH adalah nyata-nyata perbuatan syirik. ALLAH tidak menghendaki perbuatan mempersekutukan-Nya dengan segala sesuatu. Jika ingin mengabdi kepada ALLAH, maka hanya pada ALLAH saja kita harus mengabdi, tidak boleh mengabdi pada selain ALLAH. Sebagaimana tertera dalam al-Qur’an surat al-An’am ayat 56 :
“Katakanlah : ‘Sesungguhnya aku dilarang menyembah tuhan-tuhan yang kamu sembah selain ALLAH’.“

Pengabdian bukan hanya ibadah maghdoh saja, melainkan segala bentuk keta’atan dalam hidup ini. Ta’at pada sesama manusia bukan karena ALLAH merupakan perbuatan syirik, karena dengan demikian kita telah memberikan pengabdian pada selain ALLAH.

Motivasi dan tujuan yang bukan karena ALLAH
Islam mengajarkan bahwa segala perbuatan, hidup dan mati kita hanya semata-mata karena ALLAH. Dan inilah yang dinamakan ikhlas. Kita hidup karena karunia ALLAH dan mati pun adalah kehendak-Nya. Maka sudah sepantasnya kita menyerahkan hidup dan mati kita kepada-Nya. Seperti firman ALLAH yang berbunyi (Qs.al-An’am : 162) :
“Katakanlah : ‘Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk ALLAH, Rabb semesta alam, tiada sekutu bagi-Nya. Dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada ALLAH)’.“
Jika dalam melakukan suatu kegiatan tidak dilandasi niat karena ALLAH, maka sudah termasuk dalam kategori syirik. Sebagai contoh adalah sifat riya’ (melakukan sesuatu karena manusia).
Selain motivasi hanya karena ALLAH, tujuan dalam beribadah pun harus semata-mata ingin mencari ridha ALLAH, bukan untuk tujuan-tujuan lainnya. Jangankan untuk tujuan duniawi (materialis), kita beribadah karena takut masuk neraka dan ingin masuk syurga semata itu tidak boleh dan termasuk bentuk syirik. Sebab syurga dan neraka disediakan untuk makhluk ALLAH. Seorang wanita ahli sufi yang terkenal dengan filosofinya, yaitu Rabiah al-Adawiyah, mengatakan dalam bait puisinya :
“Wahai Tuhanku, bilamana menyembah-Mu karena takut neraka, jadikan neraka kediamanku. Dan bilamana daku menyembah-Mu karena gairah nikmat syurga, maka tutuplah pintu syurga selamanya bagiku. Tetapi apabila daku menyembah-Mu demi Kau semata, maka jangan larang daku menatap keindahan-Mu yang abadi.”
Berkeyakinan ada kekuatan selain ALLAH
Laa haula wala quwwata illa billah, atau tiada daya dan upaya kecuali dengan ALLAH. Semua kekuatan dan kemanusiaan yang sering membuat manusia angkuh adalah milik-Nya. Sungguh tidak pantas bagi seorang mu’min bila dalam hidupnya masih ada yang ditakuti selain dari ALLAH. Segala sesuatu di dunia ini tidak ada yang dapat mendatangkan manfaat dan mudharat kecuali ALLAH swt. Al-Qur’an menjelaskan hal tersebut dalam surat Yasin ayat 23 :
“Mengapa aku akan menyembah tuhan-tuhan selain-Nya jika (ALLAH) Yang Maha Pemurah menghendaki kemudharatan terhadapku niscaya syafa’at mereka tidak memberi manfaat sedikitpun bagi diriku dan mereka tidak (pula) dapat menyelamatkanku ?”
Menjadikan tandingan bagi ALLAH
Tandingan (al-Andad) bagi ALLAH adalah sesuatu yang dianggap atau diperlakukan sama dengan ALLAH. Apabila kita mencintai atau menakuti sesuatu selain ALLAH sama dengan ALLAH berarti kita telah menjadikan sesuatu tersebut sebagai al-Andad. Dan ini merupakan bentuk kemusyrikan, sebagaimana diterangkan dalam al-Qur’an surat al-Baqarah ayat 165 :
“Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain ALLAH, mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai ALLAH. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada ALLAH…“
Bagi seorang mu’min, ALLAH adalah segalanya. Cintanya kepada ALLAH melebihi kecintaannya kepada yang lain. Tidak dibenarkan apabila kecintaan kita kepada sesuatu sama atau bahkan melebihi kecintaan kepada ALLAH. Kecintaan kepada ALLAH, Rasul dan jihad adalah di atas segalanya bagi orang yang mengharap rahmat ALLAH.

Keempat fenomena kemusyrikan di atas merupakan pengingkaran dari kalimat tauhid (Laa ilaaha illallah). Pada dasarnya ajaran Islam adalah tauhid, dan semua rasul yang diutus ALLAH misi utamanya sama yaitu menegakkan kalimat tauhid. Firman ALLAH swt
“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Rasul pada tiap-tiap ummat (untuk menyerukan) : ‘Sembahlah ALLAH (saja), dan jauhilah thaghut itu,’….”
Saudara-saudaraku, sering seseorang melakukan kemusyrikan tanpa ia sadari. Maka hendaklah kita sering evaluasi diri….bagaimana kehidupan kita sehari-hari ? Apakah setiap gerakan kita, setiap kegiatan kita selalu kita niatkan untuk mencari ridha ALLAH ? Hal itu sangat berbahaya jika tanpa disadari kita terjebak dalam lingkaran kemusyrikan, yang pada akhirnya kita tidak akan mendapat ridha-Nya dan tentu menyebabkan kita sengsara dunia-akhirat…..Naudzubillahi min dzalik

Wallahu’alam bishawab